Indramayu dan Tangisan Tridaya

1
Foto : Stadion Tridaya Indramayu. Tangkapan layar tayangan video Toplay Com/https://youtu.be/qJoYenp0TX0v

Oleh : Wahyu Topami

Sudah menjadi rahasia umum apabila masyarakat Indramayu lebih mengetahui Persib, Persija, Persebaya, Arema, Madura, bahkan Manchester United, atau Liverpool ketimbang klub lokal mereka sendiri yaitu Persindra Indramayu. Klub yang sudah berusia setengah abad lebih itu bak hantu yang terkadang tercium baunya namun tak terlihat wujudnya.

Semakin tua, semakin bertambah usia klub-klub Indonesia, akan semakin berkembang dan dinamis. Sebagai contoh Bali United dengan Store dan Kafenya yang begitu berentitas. PSS Sleman dengan kekolektifannya yang begitu massif. Persija dengan pembinaan suporternya yang semakin tahun semakin terstruktur. Persib dengan profesionalitasnya. Dan, Persipura dengan kritikannya di sosial media. Tapi Indramayu? Setiap tahun apakah ada perubahan? Apakah ada perbaikan dari segi klub? Fasilitas? Manajemen? Stadion?


Miris memang, jangankan sepak bola yang sedari awal sudah tidak dibanggakan lagi. Padi aja yang tadinya dibanggakan kini sudah tak terdengar lagi, dengan berdirinya pabrik-pabrik yang entah itu milik siapa.

Mangga? Apa PSK? Ya jelas itu lebih dikenal, dan lebih dibanggakan ketimbang Persindra.
Jadi selama setengah abad ini persindra ngapain aja? Sosial media tak terurus, pemain tak pernah diketahui, manejemen apalagi, fasilitas komo. Kayaknya dibandingkan fasilitas dan jadwal latihan Persindra, lebih bagus fasilitas dan jadwal latihan anak sekolah atau SSB tingkat kampung deh. Eh, tapi siapa tau Persindra latihan di luar kota kan ya? Jadi temen-temen di Indramayu (khususnya) tidak pernah tau. Apa memang sengaja tidak diberitahu, apa memang benar klubnya yang mati suri?

Foto : tangkapan layar tayangan video Toplay Com/ https://youtu.be/qJoYenp0TX0v

Miris memang, secara apabila dikelola dengan baik bukan tidak mungkin Persindra mampu mendobrak kasta kedua Liga Indonesia, minimal. Walaupun tidak ada jaminan secara pasti, tapi kegilaan masyarakat indramayu terhadap sepak bola sudah tidak bisa diragukan lagi, mengingat banyak sekali subkultur suporter yang ada di kota mangga ini. Namun sebanyak apapun dukungan masyarakat, apabila klubnya tak mau berbenah tak akan ada gunanya, dukungan itu sia-sia.

Padahal, apabila sepak bola hidup akan banyak opium yang didapatkan dari hadirnya pertandingan sepak bola. Dari sektor ekonomi bukan tidak mungkin pedagang kaki lima, warkop, bahkan kafe akan mendapatkan hasil yang lebih. Sebab sepak bola merupakan olah raga yang bersifat sektoral, pasti akan ada nobar di mana-mana. Selain itu kabupaten/kota juga akan terasa lebih hidup, dan ini sudah dibuktikan secara nyata, sebab sepak bola bisa menjadi city branding.

Sebagai contoh nih ya, ketika mendengar nama Milan orang-orang bahkan masyarakat dunia pasti tergambarkan sebuah klub, entah Inter Milan atau AC Milan. Nyata kan? Ini kenapa bisa terjadi, karena sepak bola memang sudah mampu menjadi city branding bukan hanya bagi sebuah kabupaten/kota, tetapi juga sebuah negara. Tapi, mungkin Indramayu lebih memilih koridor untuk city branding kabupatennya. Namun walaupun kita belum tau apa city branding dari Indramayu, tapi pasti lah tidak sedikit orang yang berharap tentang kemajuan sepak bola Indramayu.

Persindra sebentar lagi menginjak usia yang ke 54 tahun pada 8 Oktoner nanti. Sudah seyogianya berbenah dan mawas diri. Sebab ia sudah tak muda lagi. Sudah sepatutnya sang kebanggan bernama Persindra serius mempersiapkan pahlawannya untuk merumput di lapangan hijau, bukan dipanggil saat mau mengikuti turnamen saja, melainkan sedari awal disiapkan layaknya tim professional lainnya. Bukan menggunakan birokrasi tarkam seperti itu. Kita patut malu yang berusia lebih dari setengah abad masih gitu-gitu aja.

Tangisan mengenai Stadion Tridaya juga tidak boleh lupakan begitu saja. Ia menangis sudah sangat lama. Ia rindu teriakan keras riak-riak suporter kelas pekerja. Ia rindu militansi suporter kelas pelajar. Ia juga rindu pahlawan lokalnya berlaga di lapangan sepak bola. Pastinya ia juga rindu janji yang digaungkan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) pada HUT Indramayu ke-492 lalu tentang renovasi stadion, yang katanya bakal menjadi mewah, megah, dan berkelas tapi sekali lagi; gitu-gitu aja.

Sampai kapan riak-riak ini dibiarkan dehidrasi? Sampai kapan Tridaya dibiarkan menangis? Dan terakhir sampai kapan masyarakat Indramayu tau tentang Persindra? Harus menunggu berapa tahun lagi?

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here