Persindra Promosi ke Liga 2, Jalan pintas atau Persiapkan Tim yang Kuat?

0
Foto : Maulana Athaa

Oleh : Maulana Athaa

Salam sejahtera untuk kita semua para penikmat sepak bola Indonesia, khususnya suporter Persindra yang saya banggakan. Indramayu mempunyai klub sepak bola yang usianya sudah mencapai setengah abad, namun untuk perihal prestasi dan jam terbang masih diragukan. Tapi tak mengurangi rasa cinta saya kepada tim kebanggaan. Pepatah ‘butjins’ pernah berkata “Cinta tidak memandang siapa dan punya apa”, kalimat di atas menggambar seperti halnya Persindra saat ini.

Persindra masih berlaga di divisi bawah Liga Indonesia (Liga 3 Seri 2). Prestasi apa yang sudah dicapai persindra selama mengikuti kompetisi yang patut kita banggakan? Kedua kalimat tersebut realistis untuk situasi Persindra saat ini. Mungkin tulisan ini tendensius untuk internal tim Persindra, supaya mereka tergugah hatinya untuk lebih memikirkan lagi kedepanya. Agar bisa berkembang dan Persindra semakin progres dari segala pencapaiannya, terutama dipengelolaanya yang saat ini masih terbilang kurang profesional.

Saya tidak berbicara terlalu dalam mengenai pengelolaan Persindra, karena tulisan ini tidak jauh beda dengan tulisan yang pertama yang saya tulis di media online “sepakbola cirebon” beberapa bulan yang lalu. mungkin di sini saya mau mengajak teman-teman fans Persindra untuk tetap selalu mengkritisi Persindra supaya bisa berkembang (kritik membangun). Agar kedepanya klub Persindra tidak dijual atau pindah ke pihak lain, seperti cerita klub Liga 3 Indonesia yang baru-baru ini berpindah home base karena ada seorang investor yang membeli klub, lalu memindahkan home base-nya.

Saya ingin membahas dua kalimat pertanyaan untuk perkembangan sepak bola Indramayu khususnya Persindra dan pihak-pihak yang ikut andil dalam perjalanannya. Kedepanya progres Persindra seperti apa “lewat Jalan pintas atau mempersipkan tim yang kuat”.

Sebagian orang tahu kalau jual beli lisensi klub sudah lumrah bagi sepak bola Indonesia, klub yang perpindah home base, berganti nama, tanpa mengikuti asam dan garamnya kompetisi sudah menjamur dari tahun ke tahun. Fenomena klub yang pindah home base dan nama di Indonesia bukan lah barang baru. Dalam satu dekade terkahir, hal ini semakin populer dilakukan.

Setelah era Pelita Jaya yang kerap berpindah kandang dan juga Sriwijaya yang mengakuisisi Persijatim, setidaknya ada beberapa klub Indonesia lainnya yang berganti nama dan home base serta bermain di kasta teratas. contohnya, Klub Perseru Serui meninggalkan Papua dan hijrah ke Lampung. Tak hanya homebase, Perseru pun mengubah nama tim menjadi Badak Lampung FC, Bali United lahir pada 2015 sebagai reinkarnasi dari Persisam Putra samarinda. Pada 15 Februari 2015, seorang pengusaha bernama Pieter Tanuri mengambil alih klub Persisam yang tengah kesulitan finansial. Persisam pun berpindah kandang ke Bali dan mengubah nama menjadi Bali United FC. Itu adalah contoh dari kalimat yang pertama mengenai jalan pintas untuk bisa berkompetisi di kasta tertinggi, dalam catatan manajemen harus mempersiapkan “Finansial, pengelolaan yang profesional, stadion yang sesuai standar kompetisi resmi, tempat pelatihan profesional dan dana yang lebih”. Kalaupun manajemen memilih opsi itu, syarat untuk membeli klub yang berlisensi harus melihat klub yang dibeli tersebut dalam kondisi kurang baik secara pengelolaanya, (kesulitan finansial).

Berapa dana yang dikeluarkan manajemen Persindra, seandainya ada rencana untuk mengakuisisi klub liga kasta tertinggi Indonesia.

Mari kita melakukan analisa secara sederhana. Pada 2017 lalu, klub baru yakni PS TNI mengakuisisi kontestan Liga 1 Indonesia, Persiram Raja Ampat. Saat itu, Persiram sedang kesulitan finansial. Di lain sisi, PS TNI ingin berkiprah di Liga 1 Indonesia. Kemudian, terjadilah transaksi antara PS TNI dan Persiram Raja Ampat. proses akuisisi PS TNI terhadap Persiram dilakukan melalui PT AGM (Arka Gega Magna). Total biaya yang dikeluarkan untuk mengambil alih Persiram adalah Rp 17 miliar. Nah, Rp 17 miliar adalah dana yang harus dikeluarkan untuk membeli lisensi klub Liga 1. Mari kita asumsikan jika lisensi klub Liga 2 adalah setengahnya. Sehingga, diperkirakan harga lisensi klub Liga 2 adalah Rp 8 miliar. Jumlah tersebut tentunya di luar biaya berkompetisi di Liga 2, yang meliputi perjalanan ke luar kota, gaji pemain, hingga operasional tim selama semusim.

Apakah manajemen Persindra sudah menyiapkan dana sebesar itu untuk memuluskan rencana akuisisi klub Liga 2? Seandainya itu terjadi, manajamen sepakat untuk mengakuisisi klub Liga 2, dan langsung berpindah home base-nya ke Indramayu lalu berganti nama, logo klub menjadi Persindra FC, kita sudah bermain di liga kasta tertinggi dengan jalan pintas, tinggal mempersiapkan untuk mengikuti kompetisi selanjutnya dengan matang. Ahh, saya kira tidak ada yang mustahil soal itu hehehe.. ini hanya sekadar referensi saja menurut saya.

Menurut hemat saya, sebaiknya Persindra harus meyiapkan tim yang super kuat untuk mengikuti kompetisi di Liga 3 ini agar bisa promosi dari liga 3 denga cara kesatria; pengelolaan klub lebih profesional lagi, pembinaan pemain harus di kembangkan, semuanya harus totalitas demi kemajuan persindra itu sendiri. tidak ada yang tidak mungkin kalau klub persindra dikelola secara baik, lima tahun atau sepuluh tahun kedepan akan segera promosi ke liga 2 maupun liga 1. mungkin opsi menuju jalan pintas tersebut hanya menjadi angin lewat saja dan sekedar cerita belaka menjelang tidur.

To manajemen; Jadi gimana? Lewat jalan pintas dengan membayar dana super wah untuk bisa langsung berkompetisi di Liga 2. Atau menyiapkan tim super kuat untuk bisa promosi dari Liga 3 dengan cara kesatria. Kini, bola ada di tangan manajemen Persindra.

**Penulis adalah penikmat sepak bola asal Kecamatan Jatibarang, Indramayu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here